“Bukan lagi wilayah pinggiran yang menunggu bantuan, melainkan benteng strategis yang siap berkontribusi bagi kemandirian pangan bangsa!”
Demikian semangat yang terpancar dari langkah Gubernur Maluku dalam menyambut aliran program besar Kementerian Pertanian untuk Provinsi Maluku pada Tahun Anggaran 2026. Harapan besar yang selama ini menggebu-gebu di hati jutaan rakyat Maluku kini semakin nyata, sebagai bukti bahwa perjuangan daerah kepulauan tak pernah luput dari perhatian negara.
TIFAMALUKU. COM – Melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Kementerian Pertanian mengalokasikan paket program strategis yang tidak hanya menjadi angin segar bagi petani Maluku, tetapi juga menegaskan posisi daerah ini sebagai bagian krusial dalam agenda swasembada pangan nasional.
Perolehan bantuan ini tidak datang dengan sendirinya. Gubernur Maluku telah secara aktif memperjuangkannya di tingkat pusat — melalui serangkaian pertemuan, koordinasi lintas kementerian, hingga penyampaian langsung kondisi riil Maluku yang menghadapi tantangan geografis dan iklim yang berat. Di setiap kesempatan, beliau selalu menegaskan bahwa Maluku bukan wilayah yang harus ditinggalkan, melainkan potensi besar yang siap memberikan kontribusi nyata.
“Ini adalah harapan baru bagi petani Maluku. Bantuan ini lahir dari komunikasi yang intens, dari keberanian menyuarakan kebutuhan Maluku di pusat, dan dari keyakinan bahwa Maluku mampu berkontribusi bagi swasembada pangan nasional,” ujar Gubernur pada Selasa (6/1/2025), saat menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian.
Pada 2026, alokasi program sangat masif. Sebanyak 4.466 hektare lahan akan dijadikan sawah baru, tersebar di Kabupaten Maluku Tengah (1.500 hektare), Seram Bagian Timur (1.966 hektare), dan Seram Bagian Barat (1.000 hektare). Selain itu, dilakukan Survey, Investigasi, dan Desain (SID) optimasi lahan seluas 5.600 hektare serta konstruksi optimasi lahan seluas 3.926 hektare, difokuskan pada empat sentra padi sawah utama di Maluku Tengah, Seram Bagian Timur, Seram Bagian Barat, dan Buru.
Dukungan juga diperkuat melalui infrastruktur pertanian: 196 unit irigasi perpompaan, 9 unit irigasi perpipaan, jalan usaha tani sepanjang 3.500 meter, SID irigasi tersier seluas 2.000 hektare, pemeliharaan irigasi tersier seluas 6.000 hektare, serta enam unit dam parit untuk konservasi air guna mengantisipasi perubahan iklim.
Gubernur menegaskan bahwa besarnya bantuan harus diimbangi dengan kesiapan daerah. “Ini bukan sekadar proyek tahunan, tetapi investasi masa depan pangan Maluku. Jika kita kelola dengan serius, Maluku tidak hanya cukup untuk dirinya sendiri, tetapi juga berkontribusi bagi Indonesia,” tegasnya.
Kepala Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Ilham Tauda, menjelaskan bahwa sebagian besar bantuan akan dialokasikan langsung kepada petani melalui mekanisme swakelola, menjadikan mereka sebagai pelaku utama. Dinas akan melakukan pendampingan dan pengawasan intensif agar manfaatnya tepat sasaran dan berdampak pada kesejahteraan petani.
“Dari lautan luas yang membentang hingga pegunungan yang menjulang, Maluku kini menunjukkan bahwa kemandirian pangan bukan hanya impian — melainkan janji yang akan diwujudkan untuk Indonesia seluruhnya!” (TM-OL)








