DANAR, MALUKU TENGGARA, 30 Maret 2026. TIFA MALUKU. COM, – Di tengah suasana suci menyambut hari raya Paskah, ketika sebagian besar umat Kristiani berkumpul di rumah ibadah, Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, memilih jalan yang berbeda. Pada Minggu, 29 Maret 2026, ia mengesampingkan kewajiban spiritualnya untuk hadir langsung di lokasi konflik, Desa Danar, Maluku Tenggara.
Bukan sebagai pejabat yang hanya ingin terlihat, melainkan datang sebagai seorang “orang tua” yang hatinya hancur melihat anak-anaknya saling berseteru.
Ditemani oleh Bupati Maluku Tenggara, Wakapolda Maluku, Kapolres Malra, serta jajaran TNI, kedatangan Gubernur membawa suasana yang sarat emosi. Dengan wajah yang tertunduk lesu dan mata yang berkaca-kaca, suaranya bergetar menyapa warga yang masih trauma.
“Katong sebagai pimpinan, seng pernah mengindaki situasi seperti ini terjadi. Tidak ada, tapi peristiwa ini sudah terjadi. Kita tidak punya kemampuan Ilahi untuk mengembalikan situasi ini seperti semula. Sebagai Gubernur Maluku, saya hadir di tengah-tengah masyarakat sebagai orang-tua.”
Kalimat itu terucap pilu, membuat suasana di lokasi menjadi hening seketika. Air mata yang hampir menetes dari wajah pemimpin daerah ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti nyata betapa dalamnya rasa sayang dan kepeduliannya terhadap persatuan Maluku. Ia rela melewatkan ibadah Minggu, karena baginya, menyelamatkan nyawa dan merajut kembali kasih sayang antar sesama adalah ibadah yang tak kalah besar.
Merangkul, Bukan Menghakimi; Percaya pada Hukum, Bukan pada Emosi
Gubernur Lewerissa hadir untuk merangkul kedua belah pihak yang bertikai. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal memerintah, tapi juga soal hadir saat rakyat sedang dalam kesulitan.
Dengan tegas namun penuh kelembutan, ia meminta seluruh masyarakat untuk menyerahkan sepenuhnya masalah ini pada negara.
“Dari ujung kaki sampai ujung rambut, percayakan kepada Negara. Saya sudah sampaikan kepada Pak Wakapolda dan Pak Kapolres, proses penegakan hukum harus terus berjalan. Ini negara hukum, sehingga hal-hal ini tidak boleh terjadi lagi. Negara harus menunjukkan wibawanya.”
Ia mengingatkan agar warga tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang hanya akan memperuncing masalah dan memecah belah kebersamaan. Pemerintah hadir, tidak diam, dan akan bekerja maksimal.
Dalam pesan terakhirnya kepada Bupati Maluku Tenggara, Gubernur berpesan agar segera mengambil langkah nyata:
“Jangan biarkan masyarakat tinggal di tempat pengungsian berlama-lama. Segera ambil tindakan. Yang paling penting, jangan ada saling serang. Biarkan aparat yang bekerja.”
Kehadiran Hendrik Lewerissa di Desa Danar menjadi cerminan kepemimpinan yang tulus. Sebuah inspirasi bahwa seorang pemimpin sejati adalah mereka yang siap mengorbankan kenyamanan diri sendiri demi kedamaian rakyatnya, dan siap menjadi pelindung serta penenang di tengah badai pertikaian. (TM-OL)








