TIFA MALUKU. COM – Di tengah dinamika kepemimpinan yang penuh tantangan, seorang pemimpin sejati diuji bukan hanya oleh kemampuannya dalam menjalankan roda pemerintahan, tetapi juga oleh kebesaran hatinya dalam memaafkan. Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, S.H., LL,M, telah menunjukkan teladan tersebut dengan membuka pintu maaf bagi mereka yang pernah menghina, menzalimi, bahkan mengancam dirinya.
Ketika Kebajikan Mengalahkan Dendam
Meskipun menjadi sasaran hinaan, fitnah, ancaman, dan intimidasi dari kelompok loyalis Wakil Gubernur Maluku, Abdullah Vanath (AV), yang terdiri dari Ketua PHBI Maluku, Fiko Saimima, Hamzah Hanubun, Ongen GO, dan sejumlah oknum lainnya, Gubernur Lewerissa memilih jalan yang lebih mulia: memaafkan. Padahal, tindakan mereka bukan hanya sekali terjadi, melainkan berulang kali, mencapai puncaknya melalui video viral di media sosial yang berisi intimidasi terbuka terhadap Gubernur HL terkait pelantikan pejabat eselon III & IV.
Ketua Partai Gerindra Kabupaten Buru, Asis Tomia, SE, menyampaikan apresiasinya atas sikap Gubernur HL yang membuka pintu maaf bagi loyalis AV. Menurutnya, tindakan ini sangat terpuji dan mencerminkan bahwa Gubernur HL lebih mengedepankan kasih daripada ego sebagai penguasa.
“Gubernur HL lebih mengedepankan kasih, ketimbang mengandalkan ego sebagai penguasa. Inilah ciri dan karakter pemimpin yang diharapkan masyarakat Maluku, dimana kabajikan untuk memaafkan yang dikedepankan, walaupun perbuatan yang dilakukan oleh loyalis AV sangat menyakitkan dan terancam mengganggu stabilitas di daerah,” ujar Tomia pada Selasa, 2 September 2025.
Tomia juga menambahkan bahwa sikap Gubernur HL sangat positif dan menggambarkan ketenangan dalam berpikir serta mengambil keputusan. “Bagi saya, kebajikan seorang HL harus menjadi teladan dan contoh bagi para pemimpin di negeri seribu pulau ini,” katanya.
Gubernur Lewerissa telah memberikan contoh bahwa seorang pemimpin yang baik juga harus dapat menjadi orang tua yang baik, yang tidak hanya berperan sebagai guru, pelatih, dan motivator, tetapi juga sebagai pendisiplin dan pemandu perilaku yang tepat. Tindakan yang dilakukan Gubernur HL semata-mata untuk kebaikan masyarakat dan daerah Maluku.
Oleh karena itu, Tomia berharap agar kelompok loyalis AV dapat belajar dari kesalahan yang telah dibuat, membenahi diri, dan menahan diri dari nafsu akan kekuasaan. Kedaulatan yang diberikan rakyat kepada Gubernur HL dan Wakil Gubernur AV harus mampu melahirkan sesuatu yang berarti bagi negeri ini.
“Mari kita renungkan bahwa memaafkan adalah tindakan yang tidak hanya membebaskan orang lain, tetapi juga membebaskan diri sendiri dari belenggu dendam dan kebencian. Gubernur Hendrik Lewerissa telah membuktikan bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang kebajikan, keteladanan, dan cinta kasih”. (TM – 708)








