TIFA MALUKU.COM – Di tengah upaya serius Pemerintah Provinsi Maluku untuk memperkuat ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah, sebuah gebrakan inovatif melibatkan sekolah sebagai ujung tombak. Dinas Pertanian Provinsi Maluku, berkolaborasi dengan Bank Indonesia, meluncurkan gerakan yang tidak hanya menanamkan kesadaran, tetapi juga menumbuhkan kemandirian pangan di kalangan generasi muda Maluku.

Pada 2 Mei 2025, Gubernur Maluku secara resmi mencanangkan Gerakan Sekolah Menanam di SPP/SPMA Passo. Program ini bukan sekadar aktivitas bercocok tanam biasa, melainkan strategi cerdas untuk mengendalikan inflasi sekaligus menanamkan karakter cinta lingkungan pada siswa. Sekolah-sekolah di Maluku diajak untuk memanfaatkan lahan yang ada, menanam komoditas pangan strategis seperti cabai, yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama inflasi.
“Gerakan Sekolah Menanam adalah wujud nyata kolaborasi. Selain berkontribusi pada ketersediaan pangan, gerakan ini juga membangun kesadaran generasi muda bahwa ketahanan pangan adalah tanggung jawab kita bersama,” ujar Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Maluku, D. Lekatompessy, SP., M.Si, kepada Tifa Maluku.com, Kamis (28/8/2025).

Gerakan ini memiliki lima tujuan utama: meningkatkan produksi pangan di lingkungan sekolah, menanamkan nilai-nilai ketahanan pangan, mendorong peran aktif sekolah dalam pengendalian inflasi, mengembangkan kolaborasi lintas sektor, serta memberikan apresiasi kepada sekolah yang berinovasi dalam pengelolaan kebun sekolah.
Sebagai bentuk apresiasi, sekolah-sekolah peserta akan mengikuti lomba kebun sekolah. Penilaian akan didasarkan pada kreativitas desain, keberlanjutan kegiatan, keterlibatan warga sekolah, serta dampak edukatif dan ekonominya. Pemenang lomba akan diumumkan pada September-Oktober 2025 dan akan mendapatkan hadiah berupa sarana pendidikan yang didukung oleh Bank Indonesia.

Program ini dirancang dengan tahapan yang jelas: sosialisasi dan koordinasi pada Mei 2025, bimbingan teknis dan pendampingan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) pada Juni-Juli 2025, pelaksanaan kegiatan menanam pada Juli 2025, serta penilaian dan pemberian apresiasi pada September-Oktober 2025.
Setiap sektor memiliki peran yang jelas. Dinas Pertanian bertanggung jawab atas pelatihan teknis, penyediaan bibit dan pupuk, serta monitoring dan evaluasi. Dinas Pendidikan fokus pada koordinasi antar sekolah dan penilaian. Sementara sekolah melaksanakan teknis penanaman dengan melibatkan siswa dan guru. Stakeholder lain, termasuk BI, berkontribusi pada penyediaan sarana prasarana dan dukungan apresiasi.

Sebanyak 11 sekolah di Ambon dan Maluku Tengah telah berpartisipasi, termasuk SMA Negeri 8 Ambon, SMK Negeri 6 Ambon, SMA YPKPM, SMA Negeri 3 Malteng, dan SMK Negeri 2 Ambon. Hasil observasi menunjukkan beragam kesiapan, mulai dari sekolah dengan lahan luas seperti SMK 5 Maluku Tengah (0,25 hektar), hingga sekolah dengan lahan terbatas yang tetap antusias memanfaatkan polybag.
“Setiap sekolah telah menerima bantuan berupa bibit cabai, polybag, pupuk organik, dan mulsa plastik. PPL juga telah memberikan bimbingan teknis penanaman, baik di lahan terbuka maupun sistem polybag,” jelas Lekatompessy.
Gerakan ini mendapat sambutan positif, dan Surat Edaran Gubernur Maluku Nomor 500.1.3.2/84 Tahun 2025 telah dikirimkan ke seluruh bupati/walikota untuk memperluas cakupan program. Pedoman teknis juga telah disusun sebagai panduan bersama.

Gerakan Sekolah Menanam bukan hanya tentang menghasilkan panen cabai, tetapi lebih dari itu, ini adalah pendidikan karakter. Anak-anak belajar merawat tanaman, memahami nilai kerja sama, dan merasakan manfaat ekonomi dari hasil kebun sekolah mereka.
Jika gerakan ini terus berlanjut, Maluku tidak hanya berhasil menekan inflasi, tetapi juga menyiapkan generasi muda yang sadar akan pentingnya ketahanan pangan dan kemandirian daerah.
“Kami ingin sekolah menjadi tempat lahirnya kesadaran praktis tentang pangan, lingkungan, dan masa depan Maluku. Generasi muda adalah kunci kemandirian pangan Maluku,” tutup Lekatompessy, dengan nada penuh harap. (TM-708)













