TIFA MALUKU. COM – Di balik gemerlap Kota Ambon, tersembunyi sebuah tragedi kemanusiaan yang menggugah nurani. Flip Johanis Malawauw, seorang warga Bentas, Nusaniwe, hidup dalam cengkeraman kemiskinan ekstrem, di sebuah gubuk yang nyaris rata dengan tanah. Di sanalah, di antara puing-puing harapan, ia berjuang membesarkan istri dan kedua anaknya, setiap detik dihantui mimpi buruk akan kehancuran.
Program Rumah Tidak Layak Huni (RUTILAHU), yang digadang-gadang sebagai solusi untuk mengangkat derajat kaum papa menjadi pemilik hunian manusiawi, ternyata hanya menjadi fatamorgana bagi Flip. Di bawah kendali Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Kota Ambon, program ini seharusnya menjadi pelita di tengah kegelapan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: kepedihan yang tak terperi.
Di RT. 002/004 Bentas, rumah Flip adalah monumen kemiskinan yang tak tersembuhkan. Dinding yang menganga, atap yang bolong-bolong, dan fondasi yang keropos adalah ancaman maut, terutama saat musim hujan menerjang. “Saya takut, Pak, kalau musim hujan tiba. Rumah bisa saja ambruk, menimpa kami,” ratap Flip, dengan air mata yang tak terbendung. Ketakutannya adalah realita yang setiap saat menghantuinya. Badai bisa datang kapan saja, merenggut tempat bernaung yang menjadi satu-satunya harta bagi keluarganya.
Karlina, istri Flip, tak mampu lagi menyembunyikan kekecewaannya yang membara. Bertahun-tahun sudah, mereka dibombardir janji-janji manis dari para pejabat yang datang silih berganti. Data dikumpulkan, foto rumah dipajang, namun bantuan tak kunjung tiba. “Sebagai warga, saya merasa dipermainkan,” ujarnya dengan nada getir. Ada kabar tentang warga lain yang menerima bantuan, tetapi justru mengkhianati amanah dengan menjual material bangunan. Sementara keluarga Flip, bahkan tak pernah dilirik oleh pemerintah.
Di tengah keputusasaan yang mendalam, Flip dan Karlina hanya bisa memohon keajaiban. Mereka berharap agar Pemkot Ambon dan Pemerintah Provinsi Maluku membuka mata hati mereka untuk memberikan bantuan melalui program Rulahu. Mereka ingin merasakan kedamaian, memiliki istana kecil yang layak, dan membesarkan anak-anak mereka tanpa dihantui teror kehancuran.
Kisah Flip adalah tragedi yang seharusnya tidak terjadi di negeri yang kaya raya ini. Diperlukan tindakan nyata dari pemerintah dan semua pihak untuk memastikan bahwa program-program bantuan benar-benar menyentuh mereka yang paling membutuhkan. Jangan biarkan jeritan pilu Flip dan keluarga lainnya terus menggema tanpa jawaban. Uluran tangan kita adalah penyelamat mereka. (TM-708)








