PENANGANAN SAMPAH & GERAKAN TAMBAHAN
TIFA MALUKU.COM, AMBON – Menjawab tantangan persampahan yang masih menjadi pekerjaan rumah besar, Pemerintah Kota Ambon merumuskan strategi tegas dan komprehensif melalui dua pilar utama: peningkatan kapasitas pemerintah dan pembangunan kesadaran masyarakat. Hal ini ditegaskan Walikota Bodewin M. Wattimena saat membuka Mini Festival Lingkungan Hidup “Arika Kalesang Negeri” di Pantai Negeri Rutong, Leitimur Selatan, Sabtu (28/2/2026), dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional.
“Kita punya dua kebijakan besar. Pertama, pemerintah wajib siap sarana dan prasarana. Kedua, masyarakat wajib sadar bahwa kebersihan adalah tanggung jawab bersama,” tegas Wattimena.
Bukti nyata telah digelar: penambahan armada pengangkut, penggantian TPS beton menjadi kontainer, hingga pembangunan 19 collection point. Tahun 2026 menjadi tahun terobosan dengan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) berteknologi Material Recovery Facility (MRF). Residu sampah akan diolah menjadi briket energi lewat teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) bekerja sama dengan PLN.
“Kita belum bisa bangkitkan PLTSa karena butuh 1.000 ton sampah per hari, sementara Ambon baru 300 ton. Tapi langkah skala kecil ini adalah fondasi besar masa depan,” jelasnya.
Walikota tak lagi memberi ruang untuk kelalaian. Ia menegaskan aturan ketat jam pembuangan (22.00–05.00 WIT) dan mengingatkan jaring penahan sampah di sungai bukan alat pembenaran membuang sampah sembarangan. Teguran keras disertai tindakan nyata: dalam waktu dekat, Peraturan Walikota (Perwali) sanksi tegas diterapkan. Pelanggar akan didenda hingga Rp1 juta atau kurungan, sementara warga yang berani melapor diberi insentif Rp500 ribu.
“Sosialisasi sudah cukup, sekarang waktunya penindakan. Kalau mau Ambon bersih, kita harus tegas,” ucapnya mantap.
Di momen bersejarah itu, Wattimena secara resmi meluncurkan Gerakan TAMBAHAN (Ambon Bersih, Asri, Hijau, dan Nyaman), kolaborasi Dinas Lingkungan Hidup dan Pariwisata. Ia juga menginstruksikan seluruh ASN menanam minimal satu pohon produktif (mangga/rambutan), dengan target total 5.000 pohon selama masa bakti.
“Ini bukan sekadar tanam, tapi warisan hidup bagi anak cucu kita,” pungkasnya. (TM-OL)









