TIFA MALUKU. COM – Kota Ambon berduka. Hujan deras yang mengguyur tanpa ampun telah melumpuhkan denyut nadi kota, dengan banjir dan longsor yang mengintai di setiap sudut. Di tengah kepanikan dan keterbatasan, muncul seorang putra daerah yang hatinya terpanggil untuk berbakti.
Sabtu, 16 Agustus 2025, menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya amukan alam. Kawasan Batu Koneng, Kecamatan Baguala, menjadi salah satu titik terparah. Material longsor bukan hanya menutup jalan, tetapi juga harapan warga. Namun, di saat yang genting, Balai Jalan Wilayah Maluku bergerak cepat. Alat berat berupa loader diterjunkan ke lokasi, dipimpin langsung oleh Kasatker PJN Wilayah 1, Ir. Abdul Hamid Payapo, ST.MT.

Bak prajurit yang baru kembali dari medan laga, Payapo tak sedikit pun mengendurkan semangatnya. Baru saja menjejakkan kaki di Tulehu setelah menempuh perjalanan laut dari Pulau Seram dengan speedboat, ia langsung menuju lokasi bencana. Panggilan jiwa sebagai anak Maluku mengalahkan rasa lelah.
“Setelah mendengar material longsor menutup ruas jalan di Batu Koneng, Kepala Balai langsung perintahkan untuk menerjunkan alat berat ke lokasi bencana. Alhamdulillah saat ini alat berat sementara membersihkan material longsor,” ungkap Payapo melalui pesan singkatnya.
Gerak cepat Payapo ini bukan sekadar respons terhadap perintah atasan, tetapi cerminan kecintaannya pada tanah kelahiran. Ia rela meninggalkan kenyamanan, menerjang risiko, demi memastikan masyarakat Maluku tidak berjuang sendirian.
“Kita baru tiba dari Pulau Seram menggunakan speedboat sampai di Tulehu, dengan ada laporan bencana longsor dan masyarakat membutuhkan penanganan cepat untuk membersihkan material, akhirnya kita langsung menuju lokasi bencana dan memastikan bahwa alat berat tiba di lokasi untuk membersihkan material longsor tersebut,” tuturnya dengan nada prihatin.
Tak hanya mengerahkan alat berat, Payapo juga memikirkan langkah-langkah preventif. Penutupan dan pengalihan lalu lintas, pemasangan rambu peringatan, identifikasi penyebab longsor, hingga pembersihan material longsoran menjadi prioritas utama.
Di balik seragam dan jabatan yang diemban, Payapo adalah representasi anak Maluku yang sesungguhnya. Ia hadir bukan hanya sebagai pemimpin proyek jalan, tetapi sebagai saudara, sahabat, dan pelindung bagi masyarakat yang tengah dirundung duka. Aksinya adalah oase di tengah gurun keputusasaan, setitik cahaya yang membangkitkan harapan. (***)









