TIFA MALUKU.COM, Kendari – Di tengah gemerlap Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Produk Hukum Daerah di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), pada Selasa, 26 Agustus 2025, hadir sosok yang bukan sekadar memenuhi undangan. Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, hadir dengan bara semangat membara, membawa misi besar untuk kemajuan Maluku yang tercinta.

Malam itu, Gala Dinner di kediaman Gubernur Sultra menjadi saksi bisu sebuah momen penting. Di antara para pemimpin daerah, Gubernur Lewerissa berdiri tegak, berinteraksi hangat dengan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian. Senyum optimis yang terpancar dari keduanya mengisyaratkan dialog konstruktif, membuka jalan bagi lahirnya kebijakan strategis yang pro Maluku. Bukan sekadar basa-basi, pertemuan ini adalah langkah nyata untuk mewujudkan impian Maluku yang lebih baik.
Usai jamuan, Gubernur Lewerissa tak lupa menyapa Paguyuban Masyarakat Maluku di Sulawesi Tenggara. Suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan mewarnai pertemuan yang dihadiri pula oleh Ketua DPRD Maluku, sejumlah anggota DPRD Provinsi, serta Wakil Bupati Maluku Barat Daya.
“Beta sangat bersukacita bisa bertemu langsung dengan Basudara semua di rantau ini. Malam ini adalah kesempatan yang penuh berkat,” ungkap Gubernur dengan nada penuh haru, menyentuh relung hati setiap hadirin. Kata-kata ini bukan sekadar sapaan, melainkan ungkapan kerinduan dan harapan akan persatuan seluruh masyarakat Maluku.
Dalam forum tersebut, Lewerissa dengan lugas menyampaikan kondisi Maluku yang paradoks. Meski kaya akan sumber daya alam, Maluku masih bergulat dengan kemiskinan.
“Enam bulan enam hari Beta menjabat sebagai Gubernur, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Kita harus berbenah selangkah demi selangkah,” tegasnya, membangkitkan semangat gotong royong.
Ajakan ini bukan hanya seruan, melainkan panggilan jiwa bagi seluruh masyarakat Maluku untuk bahu-membahu membangun daerah.

Gubernur menekankan pentingnya dukungan dari diaspora Maluku, baik berupa ide, jaringan, maupun semangat kebersamaan. Mengingat eratnya hubungan emosional antara Maluku dan Sulawesi Tenggara, kolaborasi ini menjadi kunci untuk membuka gerbang kemajuan. Sinergi ini bukan hanya tentang bantuan materi, tetapi juga tentang berbagi visi dan mimpi untuk Maluku yang lebih gemilang.
Isu krusial mengenai perlunya Undang-Undang Provinsi Kepulauan turut menjadi sorotan utama. Lewerissa menjelaskan bahwa perlakuan pemerintah pusat yang menyamakan provinsi kepulauan dengan provinsi daratan adalah sebuah ketidakadilan. Tantangan geografis yang berbeda menuntut perlakuan khusus.
“Beta sudah berdiskusi dengan Gubernur Sultra dan menawarkan diri sebagai Ketua Forum Kerja Sama Provinsi Kepulauan untuk memperjuangkan UU Provinsi Kepulauan yang saat ini masih dalam proses di DPR RI,” ujarnya dengan nada penuh keyakinan.
Langkah ini bukan hanya inisiatif, melainkan bukti nyata komitmen Gubernur Lewerissa untuk memperjuangkan hak-hak Maluku di tingkat nasional.
Pengesahan UU ini akan mengubah paradigma distribusi anggaran pusat, tidak lagi hanya berdasarkan luas daratan dan jumlah penduduk, tetapi juga mempertimbangkan kompleksitas kondisi kepulauan.
“Dengan demikian, perhatian lebih akan diberikan, termasuk untuk Maluku,” imbuhnya, memberikan harapan baru bagi masa depan Maluku.
Ini bukan janji kosong, melainkan harapan yang akan diperjuangkan hingga titik darah penghabisan.
Tak hanya fokus pada pembangunan fisik, Gubernur Lewerissa juga menekankan pentingnya membangun fondasi sosial yang kokoh melalui perdamaian.
“Kita bisa membangun jalan, jembatan, atau gedung. Tapi jika gagal membangun hubungan persaudaraan, semuanya akan sia-sia. Konflik hanya menyisakan abu dan arang. Tidak ada pemenang, semua merugi,” pesannya dengan nada bijak.
Pesan ini bukan hanya imbauan, melainkan refleksi mendalam tentang pentingnya harmoni dan persatuan dalam membangun Maluku yang lebih baik.
Ia mengajak masyarakat Maluku di rantau untuk aktif menyebarkan pesan damai melalui media sosial dan interaksi sehari-hari.
“Mari kita kampanyekan hidup rukun, sejuk, dan penuh persaudaraan melalui platform digital. Ini jauh lebih penting daripada sekadar proyek pembangunan,” tegasnya, menginspirasi setiap individu untuk menjadi agen perdamaian.
Aksi ini bukan hanya kampanye, melainkan gerakan moral untuk menciptakan Maluku yang damai dan sejahtera.
Gubernur juga berpesan agar warga Maluku di perantauan senantiasa menjunjung tinggi hukum, menghormati adat budaya setempat, dan bekerja dengan penuh dedikasi.
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Jangan lupa untuk pulang ke kampung halaman jika ada waktu. Maluku sudah maju, mari kita bangun bersama,” ajaknya dengan senyum tulus. Undangan ini bukan hanya seremonial, melainkan panggilan hati untuk kembali dan berkontribusi bagi tanah leluhur.
Pertemuan malam itu menjadi momentum untuk mempererat tali persaudaraan dan meneguhkan komitmen untuk membangun Maluku yang lebih baik. Dari Kendari, pesan Gubernur Lewerissa menggema: Maluku harus bangkit dengan persatuan, perjuangan, dan semangat damai yang tak pernah padam. Kobaran semangat ini bukan hanya untuk hari ini, melainkan untuk masa depan Maluku yang gemilang! (TM708)










