Dalam Hening dan Pujian, Gubernur Bawa Syukur Pulang ke Altar

oleh -17 views

Kairatu, Tifa Maluku. Com – Cuaca berseri menyapa Pulau Seram di pagi yang tenang. Langit bersih seakan membuka tirai hari untuk sebuah perjalanan penuh makna. Dalam kesunyian yang damai, Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, didampingi istri tercinta, Maya Baby Lewerissa, melangkah masuk ke pelataran Gereja Pniel, Jemaat GPM Kairatu, mengawali harinya bukan dengan seremonial, tetapi dengan sembah sujud dalam ibadah Minggu.

Tiga kali lonceng gereja berdentang, menggema ke penjuru kampung, menjadi tanda bahwa persekutuan kasih dimulai. Jemaat berdiri, pujian mengalun, membelah hening dengan harmoni surga.

Firman Tuhan dibawakan oleh Pdt. Chres Tapono, diangkat dari 1 Samuel 26:1–25—kisah Daud yang menahan diri untuk tidak membalas Saul meskipun diberi kesempatan. Sebuah pesan yang kuat tentang pengendalian diri sebagai wujud ketaatan dan kasih sejati yang menyerahkan keadilan kepada Tuhan.

Pagi itu, suasana gereja dipenuhi nuansa damai. Lantunan kidung pujian dari seorang solois membuka ruang batin, menyentuh hati yang datang dengan beban dan harapan. Suara merdu vocal group menyusul, berpadu dalam harmoni, menyelimuti ibadah dengan kekhusyukan yang menyentuh.

Nada demi nada tak sekadar lagu, tapi doa yang bersayap. Umat terhanyut, seolah dibawa lebih dekat ke hadirat Tuhan—di tempat di mana hati berserah, dan pengharapan bertumbuh dalam kasih-Nya.

Usai ibadah, Gubernur berdiri di mimbar, bukan sebagai pemimpin pemerintahan, tetapi sebagai sesama warga jemaat. Suaranya lirih namun penuh kehangatan. “Beta bersukacita bisa ada di sini, beribadah bersama basudara semua.”

Ia mengenang, beberapa waktu lalu, saat langkahnya masih berupa pergumulan dan niat. Ketika ia hendak bertarung dalam kontestasi sebagai calon Gubernur, ia datang berlutut di gereja ini. Bukan membawa ambisi, melainkan natsar—ikrar hati yang tulus dan menyerah di hadapan Tuhan.

Beta taruh semua pergumulan di tempat ini, di rumah Tuhan ini,” ujarnya penuh rasa syukur.

Kini, dalam kasih karunia yang genap, ia kembali. Bukan untuk meminta, tetapi untuk menyampaikan terima kasih. “Izinkan beta sebagai warga GPM, warga gereja, menyampaikan dangke banyak kepada basudara semua, warga jemaat Pniel Kairatu.” ungkap Lewerissa.

Ia percaya bahwa keberhasilannya hari ini tidak lepas dari doa-doa yang terucap dalam keheningan, dari malam-malam di mana jemaat menyebut namanya dalam bisik doa penuh iman.

“Dangke banyak. Karena Tuhan pakai basudara semua jadi saluran berkat untuk perjalanan ini,” tutupnya—dengan suara yang melembut, namun mengalirkan kekuatan.

Suasana menjadi haru. Jemaat diam, namun hati mereka penuh. Doa mereka, yang selama ini bergema dalam keheningan, kini dijawab dalam nyata.

Rangkaian ibadah Minggu pagi itu bukan hanya menjadi ruang perjumpaan antara umat dan Tuhan, tetapi juga menjadi saksi dari perjalanan iman, pengakuan syukur, dan janji untuk tetap setia melayani.

Turut hadir mendampingi Gubernur dalam ibadah tersebut, para pejabat lingkup Pemerintah Provinsi Maluku, antara lain Staf Ahli Gubernur Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Samuel Huwae; Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, James Leiwakabessy; Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Melkias Mozes Lohy; Plt Kepala Dinas PUPR, Hendrik Joseph Tamtelahitu; Kepala Biro Administrasi Pimpinan, Fibra Breemer; Tenaga Ahli Gubernur, Jantje Wenno.

Dalam ibadah yang hening dan suci, Gubernur dan rombongan tidak hanya beribadah, tapi juga mengikat janji baru—untuk melayani dengan kasih, seperti Daud yang tetap setia meski dalam tekanan. Sebuah ibadah yang melampaui kata, dan meninggalkan jejak rohani yang dalam. (TM-08) 

Tentang Penulis: tifamaluku

Gambar Gravatar
Nama Lengkap : Ongen Lekipiouw, S. Sis Jabatan : Pimpinan Perusahaan/Redaksi Alamat : Jalan Dr Kayadoe Kudamati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.