“Baku Gandeng Tangan”: Lebih dari Sekadar Slogan, Ini Panggilan Jiwa untuk Maluku yang Lebih Baik!

oleh -85 views

TIFA MALUKU. COM – (31 Agustus – 2025). Maluku, tanah para raja, hampir berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, terbentang warisan birokrasi yang kurang efisien dan kondisi keuangan yang menantang.

Di sisi lain, hadir harapan baru dalam diri Hendrik Lewerissa (HL), putra daerah yang dipercaya memimpin dengan mandat dari rakyat. Namun, di tengah upaya penataan birokrasi yang sedang berjalan, muncul riak-riak yang mengancam dari sekelompok oknum yang mengatasnamakan tim relawan Wakil Gubernur Maluku, Abdullah Vanath . Pertanyaannya, akankah harapan itu mampu bertahan di tengah badai kepentingan?

Nady Wally, Ketua SATRIA Kabupaten Buru, dengan lantang menyuarakan dukungan dari pelosok Bupolo kepada Gubernur Maluku HL.

Wally menegaskan bahwa konsistensi dalam menata birokrasi berdasarkan asas profesionalitas dan kepatutan ASN adalah kunci. Lebih dari sekadar dukungan, ini adalah panggilan jiwa seorang anak Maluku yang merindukan perubahan.

Mantan Anggota DPRD Kabupaten Buru periode 2019 – 2024 ini menolak keras segala bentuk intervensi yang mencoba menggagalkan upaya Gubernur HL dalam menyiapkan birokrasi yang unggul, karena di balik itu, ada kepentingan kelompok yang ingin memanfaatkan kekuasaan untuk keuntungan pribadi.

Sementara itu, Gemelita Pattiradjawane, SE, kader muda Gerindra Maluku, dengan bijak menyerukan perdamaian di tengah dinamika demokrasi yang sedang berlangsung.

Gemelita mengingatkan bahwa demonstrasi adalah hak yang dijamin konstitusi, tetapi harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, mengedepankan rasa hormat, dan menjunjung tinggi kedamaian.

“Mari kita jaga kebersamaan dan mengutamakan dialog. Sebab hanya dengan saling mendengarkan dan menghargai, kita bisa menemukan jalan keluar yang adil bagi semua,” ujarnya.

Pesan ini sangat relevan dengan kondisi Maluku saat ini. Di tengah perbedaan pandangan dan kepentingan, dialog adalah jembatan yang dapat menghubungkan kita. Perdamaian adalah fondasi yang kokoh untuk membangun Maluku yang lebih baik.

“Maluku adalah rumah bersama. Jangan biarkan api perpecahan menghanguskan persaudaraan. Mari tunjukkan bahwa daerah ini mampu menjadi pilar pemersatu perbedaan dan semangat persatuan. Damai adalah kekuatan kita. Mari baku gandeng tangan, baku sorong bahu Par Maluku Pung Bae,” tegas Gemelita.

Lebih dari sekadar slogan, “Baku Gandeng Tangan Par Maluku Pung Bae” adalah panggilan untuk bertindak. Ini adalah ajakan untuk mengesampingkan ego dan kepentingan pribadi, untuk bersatu padu membangun Maluku yang kita cintai. Ini adalah saatnya bagi seluruh masyarakat Maluku untuk bergandengan tangan, bahu membahu, dan mengawal kepemimpinan yang berintegritas.

Maluku tidak hanya membutuhkan pemimpin yang kuat, tetapi juga masyarakat yangSolid dan bersatu. Mari kita jadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan sebagai penghalang. Mari kita bangun Maluku dengan cinta, damai, dan persatuan. Karena hanya dengan begitu, kita dapat mewujudkan mimpi besar kita untuk Maluku yang lebih baik.

Di pundak kitalah masa depan Maluku digantungkan. Jangan biarkan warisan perpecahan dan kepentingan pribadi merusak harapan kita. Mari kita ukir sejarah baru dengan tinta persatuan dan semangat gotong royong. Maluku memanggil, dan kita harus menjawabnya dengan tindakan nyata. (***) 

Tentang Penulis: tifamaluku

Gambar Gravatar
Nama Lengkap : Ongen Lekipiouw, S. Sis Jabatan : Pimpinan Perusahaan/Redaksi Alamat : Jalan Dr Kayadoe Kudamati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.