“Bak petir di siang bolong, penghianatan mengguncang Maluku. Di tengah usia pemerintahan yang masih muda, Wakil Gubernur Abdullah Vanath mengkhianati kepercayaan yang diemban. Namun, di balik awan gelap ini, secercah harapan terpancar dari keteguhan Gubernur Hendrik Lewerissa, yang dengan berani menyerukan kembali pentingnya kesetiaan, kesabaran, dan harmoni sosial sebagai denyut nadi pembangunan Maluku yang berkelanjutan!
Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, S.H., LL.M., kembali menegaskan pentingnya kesetiaan, kesabaran, dan kekompakan dalam dunia politik maupun kepemimpinan pemerintahan. Hal itu disampaikan saat menghadiri Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Maluku, Minggu (24/8/2025), di Ambon.
Menurutnya, dalam berpolitik ada dua syarat utama yang harus dimiliki setiap kader maupun pemimpin, yakni kesetiaan dan kesabaran.
“Setia dan sabar, pasti hasilnya akan baik. Pesan ini juga saya titipkan kepada pasangan kepala daerah, Bupati, Wakil Bupati, Wali Kota, maupun Wakil Wali kota. Karena kesetiaan dan kekompakan mereka akan menjadi panutan bagi masyarakat,” tegas Gubernur.
Lewerissa menekankan, masyarakat Maluku adalah masyarakat paternalistik yang selalu menjadikan pemimpin sebagai teladan. Karena itu, ia mengingatkan agar para pemimpin daerah menunjukkan kekompakan, tanpa rivalitas yang justru bisa memecah kepercayaan publik.
“Saya percaya, di kalangan pemerintah saat ini di Maluku terjadi kekompakan. Tidak ada perbedaan, tidak ada rivalitas. Yang ada adalah kolaborasi dan kerja sama. Dengan kondisi ini, resonansinya akan berdampak positif bagi masyarakat, melahirkan kehidupan sosial yang lebih harmonis,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Gubernur juga mengingatkan bahwa pembangunan fisik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Menurutnya, pemerintah bisa saja membangun gedung dan infrastruktur sepanjang anggaran tersedia, namun semua itu akan kehilangan makna jika harmoni sosial tidak terawat.
“Apa artinya semua itu kalau kita gagal merawat harmoni sosial? Apa artinya gedung dan infrastruktur kalau hubungan antar kelompok masyarakat renggang dan berpotensi menimbulkan sesuatu yang kontra produktif,” tandasnya.
Karena itu, tema “Merajut Harmoni, Membangun Negeri” yang diusung dalam HUT ke-80 Provinsi Maluku 19 Agustus lalu, menurutnya sangat relevan. Tema itu menjadi pengingat bahwa pembangunan Maluku tidak boleh hanya berhenti pada aspek fisik, melainkan juga menyentuh dimensi sosial, persaudaraan, dan solidaritas.
Gubernur HL juga menyambut baik sikap politik PKS dalam Muswil yang menyatakan siap berkolaborasi dan bekerja sama dengan pemerintahan di bawah kepemimpinannya. Hal ini menjadi bukti bahwa semangat gotong royong masih membara di Maluku, siap menghadapi segala tantangan.
“Penghianatan mungkin melukai, namun tidak akan meruntuhkan semangat Maluku. Dengan berpegang teguh pada kesetiaan, memelihara kesabaran, dan merawat harmoni sosial, Maluku akan bangkit lebih kuat. Gubernur Hendrik Lewerissa, dengan keteladanannya, mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan nilai-nilai ini sebagai kompas dalam setiap langkah pembangunan. Mari kita buktikan bahwa Maluku adalah tanah yang subur bagi kesetiaan, dan dari sanalah, kemajuan sejati akan tumbuh bersemi”. (TM-708)








