Ambon, 11 Mei 2026 – Di tengah semangat mencerdaskan kehidupan bangsa dan mempersiapkan masa depan demokrasi daerah, SMA Negeri 10 Ambon menjadi saksi pelaksanaan sosialisasi pendidikan politik yang inspiratif dan mendalam. Kegiatan ini digagas dan dikoordinasikan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Maluku, yang menghadirkan dua narasumber berkompeten: Johan J. Lewerissa, SH, MH – Wakil Ketua DPRD Provinsi Maluku, serta seorang pemateri dari unsur TNI, guna membekali para siswa-siswi dengan wawasan yang sangat penting bagi peran mereka di masa depan.
Membuka pemaparannya, Politisi Partai Gerindra ini menyampaikan sebuah pertanyaan mendalam yang menggetarkan hati para siswa: “Pernahkah kalian menyadari, bahwa tangan-tangan muda yang kini sedang memegang pulpen dan buku pelajaran di bangku sekolah ini, kelak akan memegang kendali masa depan Provinsi Maluku?”
Pertanyaan tersebut bukan tanpa dasar. Berdasarkan data nyata dari penyelenggaraan Pemilu 2024, terungkap fakta yang luar biasa: sekitar 54% hingga 56% dari total suara yang menentukan kemenangan para pemimpin berasal dari kalangan generasi muda. Angka ini bukan sekadar deretan statistik belaka, melainkan bukti nyata betapa besar bobot dan pengaruh suara anak muda dalam menentukan arah kebijakan, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Lebih dari itu, menjelang penyelenggaraan Pemilu 2029 mendatang, sebagian besar siswa-siswi SMA dan SMK di Maluku akan genap berusia 17 tahun—usia di mana hak pilih mereka terbuka secara sah sebagai pemilih pemula. Namun, tegas Wakil Ketua DPRD tersebut, kekuatan suara yang sedemikian besar itu akan menjadi sia-sia dan tidak bermanfaat jika tidak disertai dengan kesadaran serta pemahaman yang benar mengenai hak, kewajiban, serta makna sesungguhnya dari politik dan demokrasi.
Itulah sebabnya sosialisasi yang digagas oleh Kesbangpol Provinsi Maluku ini menjadi sangat strategis dan mendesak. Kehadiran Johan J. Lewerissa bersama unsur TNI bertujuan tunggal: membentuk karakter generasi muda Maluku agar tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter kuat, berintegritas tinggi, serta tidak mudah dibelokkan pendirian dan pilihannya oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
Menutup Kekosongan Pemahaman di Tengah Perubahan Kurikulum
Dalam kesempatan tersebut, Johan J. Lewerissa juga menyingkap alasan mendasar mengapa pendidikan politik ini menjadi terobosan yang sangat luar biasa dan sangat dibutuhkan saat ini. Ia memaparkan adanya perubahan signifikan dalam sistem pendidikan nasional, di mana kurikulum yang berlaku saat ini telah disederhanakan dan dipersingkat dibandingkan dengan kurikulum pada masa lalu.
Jika dahulu materi pendidikan disajikan secara mendalam, tuntas, dan mencakup secara utuh nilai-nilai kebangsaan, Pancasila, hingga Undang-Undang Dasar 1945, kini penyajian materi telah disesuaikan sehingga banyak hal mendasar terkait jati diri bangsa dan dasar negara yang belum sepenuhnya dipahami secara utuh oleh para pelajar saat ini.
Di sinilah peran penting sosialisasi pendidikan politik ini: hadir untuk melengkapi pemahaman yang belum tercakup secara mendalam dalam proses belajar mengajar di kelas. Perlu ditekankan, pendidikan politik ini sama sekali bukan bertujuan untuk mengajarkan politik praktis yang berpotensi memecah belah persatuan. Sebaliknya, tujuannya adalah menanamkan nilai-nilai luhur kebangsaan, menumbuhkan rasa percaya diri, serta membentuk karakter yang tangguh agar para pelajar kelak benar-benar siap menghadapi pesta demokrasi dengan sikap yang tepat, bijak, dan bertanggung jawab.
Bekal Utama: Menjadi Pemilih Pemula yang Tidak Mudah Terpengaruh
Secara gamblang dan lugas, Johan J. Lewerissa memaparkan berbagai tantangan berat yang kelak akan dihadapi oleh generasi muda saat mereka mulai menggunakan hak pilihnya sebagai pemilih pemula. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan demokrasi yang dinamis, seringkali muncul berbagai godaan, ancaman, serta pengaruh yang dapat menyesatkan langkah dan pilihan. Oleh karena itu, ia menekankan tiga bekal utama yang wajib dimiliki oleh setiap siswa-siswi:
✅ Waspada Terhadap Bahaya Politik Uang
Wakil Ketua DPRD mengingatkan dengan tegas: generasi muda harus dibekali kesadaran yang kuat agar tidak mudah tergoda oleh bujukan imbalan materi, uang, atau fasilitas tertentu yang ditawarkan oleh pihak-pihak yang hanya mementingkan kepentingan pribadi atau golongan.
“Suara yang kalian berikan kelak adalah sebuah amanah mulia untuk masa depan daerah dan bangsa, bukan barang dagangan yang bisa diperjualbelikan demi keuntungan sesaat,” tegasnya. Menolak politik uang adalah langkah awal menuju demokrasi yang bersih dan bermartabat.
✅ Memilih Berdasarkan Jejak Rekam, Bukan Hanya Janji Manis
Lebih lanjut, para siswa diajak untuk melatih kemampuan kritis dalam menilai figur pemimpin—baik calon anggota DPRD, DPR RI, DPD RI, maupun calon kepala daerah. Jangan hanya terpaku pada kata-kata indah atau janji manis yang diucapkan saat berkampanye, tetapi telitilah secara mendalam mengenai jejak rekam, kinerja nyata, tingkat integritas, serta komitmen nyata yang telah ditunjukkan dalam berkarya dan membangun daerah. Pemimpin yang baik bukanlah yang pandai berbicara, melainkan yang terbukti mampu bekerja nyata untuk kesejahteraan rakyat.
✅ Melek Informasi dan Cakap Menyaring Berita di Era Digital
Sementara itu, pemateri dari unsur TNI turut memberikan penekanan penting mengenai tantangan zaman yang tidak bisa diabaikan: banjir informasi di dunia maya. Ia mengajak para siswa untuk terus melatih kemampuan literasi digital. Di mana-mana tersebar berita dan informasi, namun tidak semuanya mengandung kebenaran. Berita bohong atau hoaks yang disusun secara terstruktur seringkali sengaja disebarkan untuk menyesatkan pandangan dan memanipulasi pendapat publik. Oleh karena itu, generasi muda wajib memiliki kemampuan untuk meneliti, memverifikasi kebenaran, serta memilah informasi sebelum mempercayainya, agar tidak terjebak dalam skenario rekayasa pihak yang memiliki kepentingan tertentu.
Menjadi Agen Perubahan: Memahami Arti Politik untuk Kemajuan Daerah
Pendidikan politik yang disampaikan jauh melampaui sekadar panduan teknis tentang cara memilih. Lebih dari itu, kegiatan ini bertujuan mulia untuk membentuk pola pikir para pelajar agar tumbuh menjadi agen perubahan yang sesungguhnya. Johan J. Lewerissa menegaskan, generasi muda Maluku harus benar-benar memahami arti politik yang sebenarnya: sebagai sarana luhur untuk memperjuangkan kepentingan bersama dan kesejahteraan masyarakat luas, bukan sekadar ajang perebutan kekuasaan untuk kepentingan pribadi atau golongan semata.
Melalui pemahaman yang mendalam ini, para siswa akan semakin menyadari makna penting dari peran yang akan mereka emban kelak:
– Bahwa kehadiran wakil rakyat dan para pemimpin di lembaga perwakilan maupun pemerintahan sejatinya bertugas untuk memperjuangkan nasib rakyat, membangun daerah, serta mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat.
– Bahwa suara yang mereka berikan kelak bukan sekadar memenuhi kewajiban semata, melainkan sebuah sumbangsih nyata dan kontribusi berharga bagi kemajuan Provinsi Maluku ke depannya.
– Bahwa dengan pemahaman politik yang matang dan berlandaskan nilai kebangsaan, generasi muda turut memegang peran strategis dalam menjaga stabilitas daerah, memperkokoh persatuan, serta menjadi garda terdepan dalam memastikan roda demokrasi di tanah ini senantiasa berjalan sehat, adil, dan bermartabat.
Dukungan Luas dan Harapan Perluasan Jangkauan Sosialisasi
Kegiatan sosialisasi pendidikan politik di SMA Negeri 10 Ambon ini merupakan bagian dari serangkaian upaya berkelanjutan yang telah berjalan baik di bawah koordinasi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Maluku. Kepercayaan besar telah diberikan kepada para anggota DPRD serta unsur-unsur Forkopimda—termasuk unsur TNI—untuk turun langsung ke lapangan dan menyampaikan materi-materi yang sangat bermanfaat ini kepada para pelajar di berbagai sekolah di wilayah Maluku.
Penyelenggaraan kegiatan ini pun telah mendapatkan sambutan yang sangat antusias dan positif, baik dari pihak pengelola sekolah maupun dari para siswa-siswi yang hadir. Materi yang disampaikan dinilai sangat relevan, mendalam, dan mampu membentuk pola pikir yang kritis namun tetap bertanggung jawab serta berjiwa besar. Oleh karena itu, harapan besar disampaikan agar cakupan sosialisasi serupa ini terus diperluas jangkauannya, sehingga semakin banyak sekolah dan generasi muda di seluruh pelosok kepulauan Maluku yang berkesempatan mendapatkan bekal pemahaman dan wawasan yang sama.
Menutup rangkaian pemaparannya dengan penuh haru dan semangat, Johan J. Lewerissa, SH, MH, kembali menyampaikan pesan yang sangat menyentuh hati seluruh siswa-siswi SMA Negeri 10 Ambon:
“Kawan-kawan pelajar sekalian, kalianlah harapan terbesar dan penerus estafet perjuangan di tanah Maluku tercinta ini. Pendidikan politik yang telah kita bahas bersama hari ini adalah sebuah warisan emas yang kami sampaikan kepada kalian, agar kelak saat tiba waktunya, langkah kalian dalam berdemokrasi senantiasa berada di jalan yang benar dan terang.”
Ia kembali mengingatkan agar generasi muda Maluku tidak pernah membiarkan suara hati dan pilihan mereka dibisikkan atau dipengaruhi oleh kepentingan pihak lain.
“Jadilah pemilih yang cerdas, yang mampu melihat jauh ke depan melampaui sekadar janji manis, yang berani tegas menolak segala bentuk politik uang, serta yang pandai dan cermat membedakan mana kebenaran dan mana kebohongan. Jadilah generasi yang tidak hanya pandai meraih prestasi di atas kertas, tetapi juga cerdas dan bijaksana dalam menentukan arah masa depan daerahnya,” pesannya.
Di akhir pernyataan yang penuh makna tersebut, disampaikan sebuah keyakinan teguh: “Percayalah, ketika generasi muda Maluku tumbuh cerdas dan bijaksana dalam menentukan pilihannya, maka impian terwujudnya Maluku yang maju, adil, makmur, dan sejahtera bukan lagi sekadar harapan atau mimpi belaka, melainkan sebuah kepastian yang akan terwujud di masa depan.” (***)







