TIFA MALUKU.COM — AMBON — Di tengah gelombang isu yang sengaja digulirkan terkait laporan harta kekayaan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, SH., LL.M., satu hal yang jarang disentuh adalah kenyataan yang terlihat jelas di mata masyarakat: keluarga terdekatnya tidak pernah hidup dalam kemewahan yang dipamerkan. Justru kesederhanaan mereka yang menjadi jawaban paling jujur atas segala tuduhan yang berkembang.
Kritikus bertanya-tanya: dari mana sumber kekayaan itu jika bukan dari APBD? Padahal faktanya jelas. Pemerintah Provinsi Maluku mewarisi kondisi keuangan yang berat — termasuk beban pinjaman SMI yang manfaatnya belum dirasakan masyarakat namun tetap harus dibayar. Pendapatan asli daerah terbatas, hampir tidak pernah mencapai target. Belum lagi pemotongan anggaran dari pusat yang memaksa efisiensi di mana-mana. Maluku juga tidak memiliki industri raksasa atau dividen tambang yang mengalir deras ke kas daerah seperti daerah lain.
Jika APBD saja dikelola dengan sangat ketat, bagaimana mungkin seseorang bisa mengumpulkan kekayaan puluhan miliar dari sana dalam waktu singkat? Logika sederhana sulit dibantah: itu hampir mustahil.
Penelusuran redaksi menunjukkan, aset-aset yang kini dijadikan bahan isu bukanlah hal baru. Sebagian besar telah dimiliki jauh sebelum Hendrik Lewerissa menjabat Gubernur tahun 2025.
Berikut aset yang teridentifikasi Versi Redaksi :
– ✅ Rumah pribadi di Jakarta Selatan dan Poka-Rumah Tiga — dimiliki sejak lama
– ✅ 3 lahan kosong di kawasan Rumah Tiga — sudah dimiliki sebelum menjabat
– ✅ Rumah di Negeri Hatu, Jazirah
– ✅ Lahan kosong di Negeri Passo
– ✅ Lahan kosong di Masohi, Gunung Karai
– ✅ Rumah di Itawaka, Nalahai, dan Saparua — dibangun jauh sebelum menjabat
– ✅ 4 unit kendaraan, termasuk Fortuner dan Honda Jazz
LHKPN yang disampaikan saat pendaftaran Pilgub juga belum lengkap karena ketentuan waktu yang mendesak, dan akan dilaporkan secara menyeluruh sesuai aturan hukum yang berlaku. Jauh sebelum itu, jejak asetnya dapat ditelusuri sejak masa karier profesionalnya di BUMN, sebagai Tim Ahli Hukum, hingga saat menjabat Anggota DPR RI periode 2019–2024.
Yang paling menyentuh hati masyarakat adalah gaya hidup keluarga inti Gubernur. Tidak ada pamer kemewahan, tidak ada gaya hidup berlebihan. Ibu Maya Babby Rampen tetap tampil sederhana dalam setiap kesempatan.
Dan yang lebih patut dicontoh — ketiga anak mereka tidak pernah memanfaatkan jabatan orang tua. Mereka punya jalan hidup dan karier sendiri:
– Patrik Lewerissa — Bekerja di bank
– Sarah Lewerissa — Bekerja di bank
– Gerson Lewerissa — Bekerja di bank
Tidak ada proyek pemerintah yang dikelola keluarga. Tidak ada bisnis yang memanfaatkan akses kekuasaan. Mereka bekerja, berjuang, dan mencari nafkah seperti anak-anak muda lainnya di Maluku. Sopan santun mereka di mana pun berada menjadi bukti: pendidikan yang baik tidak harus berjalan beriringan dengan kesombongan.
Kini beredar kabar ada pihak yang berencana melaporkan hal ini ke KPK. Pertanyaan wajar kemudian muncul: apakah bukti-bukti yang kuat sudah diantongi sebelum langkah itu diambil? Ataukah ini hanya manuver politik jelang Pilgub yang berupaya membentuk opini publik tanpa fakta yang utuh?
Hukum memang harus ditegakkan. Namun tegaknya kebenaran juga menuntut kehati-hatian. Tuduhan tanpa bukti yang kuat adalah fitnah — yang juga perbuatan tercela menurut hukum dan keyakinan kita.
“Kekayaan terhormat bukanlah yang terlihat di panggung pemberitaan, melainkan yang tersimpan dalam kepercayaan rakyat. Kekayaan terbesar seorang pemimpin bukanlah hartanya, melainkan keluarganya yang tetap rendah hati di tengah kekuasaan, dan nama baiknya yang dijaga tidak hanya oleh dirinya, tetapi oleh bagaimana ia memperlakukan rakyatnya.”
Biarkan waktu dan fakta yang berbicara. Namun untuk saat ini, satu hal yang terlihat nyata: Hendrik Lewerissa mungkin tidak memamerkan hartanya, tetapi kesederhanaan keluarganya — itulah kekayaan yang tidak bisa dibeli dengan uang. (TM-OL)









