By : SAT (SALAWAKU SATU AMPA)
Maluku telah menjadi rumah besar kita. Sebuah identitas yang Memproklamirkan dirinya sebagai titisan darah “ALIFURU”, mengalir dari tanah ibu yang bertitel NUNUSAKU, merenda generasinya dalam berbagai pranata budaya, menumbuhkan kekuatan fisik, sampai pada ruang roh dengan imaginasi yang terlalu kuat.
Oleh CHAYRUL ANWAR, manusia ALIFURU (baca Maluku) dengan kedalaman spiritualnya diekspresikan kedalam Karya sastra monumental dengan narasi ;
“….JANGAN BIKIN BETA MARAH, BETA BIKIN PALA MATI….”
“…BETA API DIPANTAI, SIAPA MENDEKAT SEBUT BETA PUNYA NAMA TIGA KALI…”
Membaca narasi Chairul Anwar, kita sesungguhnya sadar bahwa “KATONG” ini orang-orang yang bisa “tandamg tana” bisa “Game mata angin”, bisa ” angka sumpa”,”pasawari” dalam ruang “gunung tana”.
Artinya kekuatan “TANA IBU” dengan segala kedalamannya masih tetap melekat dalam darah anak negeri dan mungkin saja pada semua “sesiapa” yang beranak pinak di bumi Maluku.
Linimasa MALUKU kemudian mencitrakan bahwa kita bukan orang lempar bantu sembunyi tangan, tapi sesungguhnya kita adalah manusia ALIFURU yang “selalu di muka”, “tada muka”, “sorong bahu pikol hahalang bersama-sama”, bukan orang-orang yang tukang “bataria dibalakang” tapi begitu disuruh maju memainkan peran, ternyata tidak mampu
Sebab kemampuannya hanyalah untuk “bataria”, menyindir dan mencela, bukan Untuk berpikir dan kerja.
Mix culture
Generasi Maluku kini berada pada ruang mix culture sebagai akibat kemajuan IT dan Komunikasi global yang tak terbendung.
Pada posisi ini tergambar jelas bahwa terjadi pergeseran nilai, terutama yang berhubungan dengan nilai adatis, dan pranata budaya lainnya yang fundamental.
Kita temukan bahwa tadinya budaya “SORONG BAHU” begitu kuat menjadi bagian dari totalitas kohesi sosial maluku yang diwujudkan dengan identitas “KATONG”, tiba-tiba berubah menjadi “BETA CENTRIS” yang memandang segala sesuatu hanya menurut perspektif BETA, dan diluar BETA adalah SALAH.
Beta centris telah merubah identitas “KATONG” yang tadinya menjadi kebanggan kebersamaan, kini hanya sebagai simbol untuk melambangkan eksistensi AKAR orang Maluku.
Dinamika perubahan itu juga telah menyasar sampai pada cara memandangK elembagaan yang menempatkan lembaga Pemerintah di Maluku pada berbagai arasnya seolah menjadi suatu lembaga sosial kebanyakan yang tidak memiliki landasan nilai historis maupun adatis. Parahnya lagi hal itu mengerucut sampai Posisi PEMERINTAH DAERAH.
Orang tidak lagi punya pengetahuan dasar bahwa lembaga-lembaga itu memiliki kesakralan dimana KEPALA PEMERINTAHAN MALUKU, dinobatkan sebagai UPULATU MALUKU atau bila dikristalkan ke dalam SIWALIMA kita sebut dengan “UPU LATU ELAKE AMANNO SIWALIMA” (RAJA BESAR NEGERI SIWALIMA) dimana GUBERNUR sesungguhnya adalah RAJA BESAR NEGERI MALUKU yang mesti dijaga legitimasinya, tetapi juga SPIRITUALITAS KEADATAN yang menjadi nadi identitas kita sebagai anak-anak adat.
KENISCAYAAN
Beberapa waktu ini ada yang menarasikan lembaga GUBERNUR dengan diksi-diksi yang bukan lagi memberikan koreksi demi memperkuat proses kedepan tetapi justru cenderung Mendiskreditkan bahkan menghina.
Ternyata yang bersangkutan kemudian menampakkan dirinya sebagai seorang yang patut dikasihani, ketika bicara tentang kepimpinan GUBERNUR MALUKU.
Mengapa perlu dikasihani?
beberapa indikator pengukur yang dapat dikemukakan:
1. Sama sekali tidak mengerti tentang PEMERINTAH dan PEMERINTAHAN.
2. Sama sekali tidak mengerti tentang management birokrasi,
3. Sama sekali tidak mengerti tentang asas sentralisasi, desentralisasi, medebewind.
4. sama sekali tidak mengerti tentang sistim evaluasi kinerja pemerintah sampai pada LAKIP.
5. Sama sekali tidak mengerti tentang kewenangan kelembagaan yang terkait dengan sistim evaluasi.
6. Sama sekali tidak mengerti tentang PREROGATIFITAS LEMBAGA GUBERNUR.
Dalam keharmonisan kerja Gubernur dan Wakil Gubernur, beredar pernyataan-pernyataan seolah ada disharmoni dalam gerak langkah mereka.
Dalam ruang intelektual kita semua tahu bahwa “perbedaan”, baik substansial, cara pandang, sampai pada sistim, sesungguhnya hal itu adalah sebuah KENISCAYAAN.
Bahwa bila kita memandang perbedaan – perbedaan sebagai*jurang*, sesungguhnya kita telah gagal Menempatkan diri sebagai orang-orang Yang berpikir.
Dalam ruang seperti itu kita teringat lirik salah satu lagu rakyat orang Maluku: “HELA HELA ROTAN E,ROTAN E TIFA JAWA……..JAWA E BABUNYI……ROTAN, ROTAN SUDA PUTUS SUDA PUTUS UJUNG DUA DUA BAKU DAPA E …”
Sudah lama lagu ini ditinggalkan dalam peradaban ALIFURU kita, dimana kita tidak inginkan diadu oleh sesiapa yang memposisikan diri lempar batu sembunyi tangan, yang menggunakan kita sebagai alat untuk pencapaian kepentingannya.
Kita mestinya menyadari bahwa posisi Gubernur dan Wakil Gubernur saat ini adalah POSISI KEBERPIHAKAN RAKYAT, dimana Rakyat menunjukkan sikapnya untuk berpihak pada sosok yang mengerti dengan cerdas, apa itu Pemerintah dan Pemerintahan.
Pada potret seperti itu sesungguhnya telah disebutkan di atas bahwa sebagai TITISAN ALIFURU, kita tidak punya mental lempar batu sembunyi tangan, tetapi mental kita adalah mental SORONG BAHU, mental MAJU DIMUKA, mental BICARA DIMUKA, tidak ada mental “BATARIA” diluar ruang,di belakang panggung yang mengekspresikan posisi sebagai PENABUH TIFA dalam lagu HELA-HELA ROTAN.
Par Maluku Pung Bae
Ada yang secara sadar telah memposisikan dirinya sebagai “MARINYO” (Maluku Tengah), sayangnya MARINYO tidak pernah menyampaikan pesan yang Mendeskreditkan, malah sebaliknya pesan yang disampaikan MARINYO adalah pesan positif yang menuju pada kemasyalahatan bersama.
Sampai pada tahap ini mesti kita katakan bahwa rakyat/masyarakat MALUKU saat ini sudah sangat cerdas untuk membedakan mana narasi yang sesungguhnya bertujuan memberi pembaruan, dan mana narasi yang sesungguhnya hanya mengekspresikan rasa SAKIT HATI yang didukung tingkat intelektual rendah, mana narasi yang ditafsir justru menelanjangi identitas PARA DALANG dibelakang sang narator.
Yang mengherankan adalah si Narator justru senang menampilkan narasi-narasi murahan selama ini yang disangkanya memiliki bobot padahal sesungguhnya kosong dan dangkal yang oleh masyarakat Maluku dikenal dengan istilah “di aer mata kaki”. Hal itu dengan sendirinya menunjukkan tingkat kecerdasan yang rendah, bermental JONGOS karena diperalat oleh orang lain yang menjadi dalang.
Sebab bila si Penarasi memiliki tingkat pengetahuan analitis seperti yang dilavalkan, herannya yang bersangkutan tidak memilih untuk menjelmakan dirinya menjadi GUBERNUR, atau LEGISLATOR tetapi ditafsir menjadi JONGOSNYA para dalang untuk menarasikan hujatan, rongrongan, kebencian mereka terhadap baik figur maupun lembaga GUBERNUR MALUKU saat ini.
Si Penarasi mesti belajar memaknai adagium ; “BILA TANGANMU BELUM MAMPU MERINGANKAN BEBAN ORANG LAIN, SETIDAKNYA JANGANLAH MENGGUNAKAN MULUTMU UNTUK MERENDAHKAN ORANG LAIN”.
Bagi orang Maluku; dalam konteks perubahan global yang memberi pengaruh multidimensional saat ini,saya pikir kita tidak punya pilihan lain Selain
Mendoakan dan memperkuat kembali BUDAYA SORONG BAHU,sehingga BERSAMA GUBERNUR : HENDRIK LEWERISSA SH.LLM dan WAKIL GUBERNUR: ABDULLAH VANATH, S.SOS kita hadapi bersama tantangan global
“PAR MALUKU PUNG BAE”, LAWAMENA. (***)








