TIFA MALUKU. COM – Sebanyak 163 pendamping Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dari berbagai pelosok Maluku baru saja mengikuti pelatihan intensif di Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Maluku. Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari, dari 21 hingga 23 Oktober 2025 ini, bertujuan untuk meningkatkan kompetensi para pendamping KDKMP, sebagai garda depan pembangunan ekonomi kerakyatan.

Dengan tema yang menggelora, “SDM dan Talenta Unggul Menuju Indonesia Emas 2045”, kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen untuk memperkuat kualitas SDM koperasi. Semangat kolaborasi membara saat acara dibuka, menandai dimulainya upaya kolektif untuk mewujudkan koperasi yang lebih maju dan berdaya saing.
Acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, antara lain Anggota DPD RI Novita Anakotta, Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kementerian Koperasi dan UMKM Destry Annasary, Kepala Kanwil Hukum Maluku Syaful Syahri, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Maluku Fitra Ambon, serta para kepala dinas koperasi dari 11 kabupaten/kota di Maluku. Kehadiran mereka menunjukkan dukungan penuh terhadap pengembangan koperasi di Maluku.
Para peserta pelatihan terdiri dari Project Management Officer (PMO) dan Business Assistant (BA) dari seluruh penjuru Maluku. Terdapat 24 PMO, masing-masing dua dari setiap kabupaten/kota ditambah dua dari provinsi, serta 123 BA. Sisanya adalah para pendamping teknis yang tak kalah penting perannya.

Dalam sambutannya yang penuh semangat, Deputi Destry Annasary menegaskan bahwa pelatihan ini adalah implementasi dari Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025. Instruksi ini menjadikan Koperasi Merah Putih sebagai bagian tak terpisahkan dari Program Strategis Nasional (PSN) untuk mewujudkan kemandirian ekonomi rakyat, dimulai dari desa hingga mencapai Indonesia Emas 2045.
“Tujuan besar ini membutuhkan SDM yang tangguh dan berdaya saing. Sebaik apapun program, keberhasilannya ada di tangan manusia yang menjalankannya,” tegasnya.
Destry juga menekankan bahwa para pendamping, baik PMO maupun BA, harus menjadi agen perubahan. Mereka harus aktif membantu koperasi merah putih dalam merintis usaha, membangun jaringan, dan menciptakan ekosistem ekonomi yang saling mendukung.
“Pelatihan ini adalah modal awal. Manfaatkan kesempatan ini untuk membangun jaringan dan belajar bersama. Ke depan, semua koperasi harus saling menopang dan bertransformasi ke arah digitalisasi dan profesionalisme,” imbuhnya.
Kementerian Koperasi dan UMKM juga tengah menyiapkan platform pelatihan daring. Ini adalah bagian dari sistem pembelajaran digital untuk memperluas akses edukasi bagi para pendamping koperasi di seluruh Indonesia. Sebuah langkah maju untuk memastikan semua pendamping memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan.
Dalam konteks pembangunan daerah, koperasi merah putih diharapkan menjadi mitra utama pemerintah. Tujuannya adalah memperkuat ekonomi lokal, membuka lapangan kerja, dan mendukung program-program nasional seperti Makanan Bergizi Gratis melalui rantai pasok produk lokal antar koperasi.
“Jika Maluku memiliki 1.236 koperasi merah putih, maka ada 1.236 peluang bisnis yang bisa saling menopang. Inilah semangat kolaborasi ekonomi kerakyatan yang kita bangun dari desa menuju masa depan Indonesia Emas,” pungkas Destry dengan optimisme.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Maluku, Fitra Ambon, menekankan betapa pentingnya peningkatan kapasitas SDM. Hal ini krusial untuk mendorong keberhasilan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di seluruh Maluku.
“Peran SDM sangat menentukan percepatan pembentukan dan keberlanjutan koperasi. Karena itu, pendamping harus dibekali kemampuan teknis, manajerial, dan digital agar koperasi dapat berkembang modern, profesional, dan transparan,” jelas Fitra.
Fitra juga menambahkan bahwa pelatihan ini adalah langkah nyata menindaklanjuti amanat Inpres Nomor 9 Tahun 2025. Menteri Koperasi diberi mandat untuk memfasilitasi pendampingan, edukasi, dan pelatihan SDM perkoperasian.
Ia berharap, melalui pelatihan ini, para pendamping dapat meningkatkan kapasitas dan kompetensi mereka, memperkuat jejaring, serta menguasai teknik pendampingan yang efektif dan berorientasi hasil.
“Dari pelatihan ini, kita ingin melahirkan pendamping yang responsif, mampu mengelola koperasi secara modern, serta memperkuat jejaring bisnis lokal antar-koperasi sebagai bagian dari revolusi ekonomi rakyat Maluku,” tutup Fitra dengan penuh harap. (TM-708)










