TIFA MALUKU, BURU – Di balik pesona keindahan alam Pulau Buru yang memukau, tersimpan persoalan serius yang telah lama menjadi perhatian bersama: maraknya aktivitas pertambangan emas ilegal di kawasan Gunung Botak sejak 2011 lalu. Untuk melihat langsung kondisi lapangan dan memastikan langkah penataan berjalan sesuai koridor hukum, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa memimpin rombongan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) melakukan kunjungan kerja istimewa ke daerah ini, Rabu (06/05/2026).
Rombongan yang membawa misi pengawasan dan evaluasi ini terdiri dari tokoh-tokoh pimpinan strategis, antara lain Kapolda Maluku Irjen Pol. Dadang Hartanto, Pangdam XV/Pattimura Mayjen TNI Dody Triwinarto, serta perwakilan Kejaksaan Tinggi Maluku. Perjalanan dimulai dari Bandar Udara Internasional Pattimura menggunakan pesawat Kasa, sebelum akhirnya mendarat mulus di Bandar Udara Naniwel tepat pukul 08.55 WIT.
Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai setelah kaki-kaki rombongan menginjak tanah Buru. Dari bandara menuju lokasi tambang yang menjadi sorotan, perjalanan harus ditempuh sejauh ratusan kilometer dengan medan yang sangat ekstrem. Jalur yang dilalui penuh bebatuan, licin, dan berkelok-kelok membuat perjalanan memakan waktu sekitar dua jam menggunakan kendaraan roda empat. Bukan perjalanan mudah, namun tekad yang kuat untuk membenahi kawasan tersebut membuat segala hambatan terasa terlewati.
Sesampainya di wilayah tujuan, rombongan disambut dengan kehangatan khas masyarakat Bupolo. Bupati Buru Ikram Umasugi bersama jajaran Forkopimda Kabupaten dan Anggota DPRD Buru M. Rustam Fadly Tukuboya telah menunggu untuk menyambut kedatangan para pemimpin daerah. Penyambutan tidak hanya bersifat resmi, tetapi juga diwarnai kekayaan budaya lokal. Sebagai bentuk penghormatan dan identitas kearifan daerah, para tamu kehormatan dipasangi Lestari – ikat kepala adat yang menjadi simbol martabat dan persaudaraan. Suasana semakin meriah dengan penampilan tarian Sawat yang dibawakan oleh putra-putri daerah, menjadi bukti bahwa meski dihadapkan pada berbagai persoalan, semangat budaya masyarakat Buru tetap terjaga dengan baik.
Kunjungan ini memiliki makna yang sangat penting. Bukan sekadar kunjungan inspeksi biasa, melainkan wujud nyata komitmen Pemerintah Provinsi Maluku bersama seluruh unsur keamanan dan penegak hukum untuk memberantas praktik pertambangan ilegal yang telah merusak lingkungan dan melanggar aturan yang berlaku. Di lokasi Gunung Botak, Gubernur dan rombongan melihat langsung proses pembersihan yang sedang dijalankan, mengecek efektivitas langkah-langkah yang telah diambil, serta mendengar aspirasi dari berbagai pihak terkait.
“Kami datang ke sini bukan hanya untuk melihat, tetapi untuk memastikan bahwa upaya penertiban ini berjalan konsisten, tepat sasaran, dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat serta kelestarian alam Buru,” ujar Gubernur Hendrik Lewerissa saat tiba di bandara Naniwel.
Langkah ini juga menjadi sinyal tegas bahwa pemerintah tidak akan mentolerir lagi setiap aktivitas yang merusak sumber daya alam dan mengabaikan hukum. Dengan sinergi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, dan lembaga penegak hukum lainnya, diharapkan kawasan Gunung Botak dapat kembali pulih, dikelola secara bertanggung jawab, dan akhirnya memberikan kesejahteraan yang adil bagi seluruh masyarakat Maluku.
Di penghujung kunjungan, semangat kebersamaan terlihat jelas di antara seluruh pihak yang terlibat. Perjalanan berat yang telah dilalui menjadi bukti bahwa selama ada tekad yang sama, tidak ada tantangan yang tidak dapat diselesaikan. Harapan pun tumbuh subur: masa depan Pulau Buru yang lebih bersih, aman, dan sejahtera kini semakin dekat untuk diwujudkan. (TM-OL).








