TIFAMALUKU.COM, Ambon, 06 November 2026 — Pemerintah Provinsi Maluku menegaskan hilirisasi sagu senilai investasi Rp500 miliar di Kabupaten Seram Bagian Timur tidak akan merusak ekosistem. Penegasan ini disampaikan Kepala Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Dr. Ilham Tauda, didampingi akademisi Universitas Pattimura, Prof. Dr. Ir. Agust Ernst Pattiselano, M.Si., yang juga Ketua Harian DPD HKTI Maluku dalam konferensi pers di Ambon.
Penjelasan ini muncul menyusui penandatanganan nota kesepahaman antara Pemprov Maluku, Pemkab Seram Bagian Timur, dan PT Inovasi Nusantara Lestari di Kementerian Perindustrian, Jakarta.
Dr. Ilham menegaskan anggapan bahwa hilirisasi akan membuka hutan sagu secara masif hingga habis adalah salah kaprah. “Tujuan kami menjaga kelestarian ekosistem sekaligus meningkatkan nilai tambah sagu untuk kesejahteraan petani,” ujarnya.
Hutan sagu akan ditata menjadi kebun sagu yang dikelola berbasis masyarakat dengan pendekatan ekosistem. Kalender tanam dan panen diatur bertahap — tidak dipanen serentak — sehingga populasi sagu tetap terjaga.
Prof. Pattiselano menjelaskan, selama ini Maluku belum memiliki sistem budidaya sagu yang terstruktur. Kita hanya mengambil dari alam tanpa menanam kembali. Lewat program ini, pola itu diubah: menanam, bukan sekadar menebang.
Data penelitian menunjukkan, satu hektar hutan sagu alam hanya berisi 10–20 batang pohon. Jika ditata menjadi kebun budidaya, jumlahnya dapat meningkat menjadi 100–200 batang pada lahan yang sama. Produktivitas meningkat berkali lipat tanpa membuka hutan baru.
Dr. Ilham Tauda menjelaskan, Maluku adalah salah satu dari tiga sentra sagu nasional. Total potensi mencapai 36.000 hektar, dan sekitar 97 persen atau 35.000 hektar berada di Seram Bagian Timur. Namun pengembangan ini tidak tertutup bagi daerah lain. Pemprov juga memetakan kawasan yang dulunya kaya sagu namun kini populasinya menurun, untuk dikembalikan melalui budidaya terencana.
Permintaan tepung sagu dunia terus meningkat, terutama dari Jepang — kebutuhan mereka naik dari 3–4 persen menjadi 12 persen. Namun saat ini kemampuan produksi sagu di Maluku baru sekitar 19.000 ton, sementara untuk produksi beras 60.000 ton dari total kebutuhan 150.000 ton, atau baru 40 persen.
Hilirisasi juga membuka inovasi: sagu dapat diolah menjadi beras analog, seperti produk “Sagu Mama Papua” yang sudah dikenal luas. Di tengah pergeseran pola konsumsi masyarakat dari sagu ke beras, bentuk baru ini diharapkan dapat diterima sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah, ” ujar Tauda.
“Siapa pun yang mengatakan hilirisasi sagu berarti pengrusakan alam, itu keliru. Kami menata, bukan menebang habis. Tujuannya satu: sagu lestari, rakyat sejahtera,” tegas Dr. Ilham.
MoU baru saja ditandatangani, dan langkah teknis pelaksanaan akan segera disusun. Seluruh proses akan melibatkan masyarakat setempat dengan prinsip keberlanjutan. (TM-OL)
