Presiden Prabowo Resmikan 13 Proyek Hilirisasi Nasional Senilai Rp116 Triliun: Maluku Jadi Bagian Penting, Hasil Perjuangan Gubernur Hendrik Lewerissa  

oleh -12 views
{"source_type":"vicut","data":{"client_key":"aw889s25wozf8s7e","source_type":"vicut","source_platform":"mobile_2","appVersion":"17.5.0","enterFrom":"cover","os":"android","product":"vicut","editType":"image_edit","region":"ID","picture_id":"9F3M27B8-QG24-MHZ5-FNR4-GY2EGI0BJE3W","pictureId":"9F3M27B8-QG24-MHZ5-FNR4-GY2EGI0BJE3W","capability_name":"capcut_photo_editor"},"tiktok_developers_3p_anchor_params":"{"client_key":"aw889s25wozf8s7e","source_type":"vicut","source_platform":"mobile_2","appVersion":"17.5.0","enterFrom":"cover","os":"android","product":"vicut","editType":"image_edit","region":"ID","picture_id":"9F3M27B8-QG24-MHZ5-FNR4-GY2EGI0BJE3W","pictureId":"9F3M27B8-QG24-MHZ5-FNR4-GY2EGI0BJE3W","capability_name":"capcut_photo_editor"}"}

TIFA MALUKU. COM, 29 April 2026 – Mimpi besar menjadikan Indonesia sebagai negara yang mandiri dan berdaulat dalam mengelola kekayaan alamnya semakin nyata. Hari ini, Rabu 29 April 2026, Presiden Prabowo Subianto secara resmi meresmikan groundbreaking 13 proyek strategis hilirisasi nasional tahap II dengan total nilai investasi mencapai Rp116 triliun. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa sumber daya alam yang dikaruniai Tuhan untuk bangsa ini kini diolah sendiri, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh rakyat Indonesia.

 

Dalam sambutannya di lokasi Refinery Unit IV Cilacap, Jawa Tengah, Presiden Prabowo menegaskan bahwa hilirisasi bukan sekadar program ekonomi, melainkan jalan menuju kemakmuran sejati. “Kemandirian ekonomi dimulai dari keberanian kita mengolah kekayaan sendiri. Selama ini kita hanya menjual bahan mentah, sekarang saatnya kita menghasilkan produk bernilai tinggi. Ini adalah syarat utama agar bangsa ini maju dan sejahtera,” tegas Presiden.

 

Ke-13 proyek strategis tersebut tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mencakup beragam komoditas andalan:

 

1. Fasilitas Kilang Gasoline di Dumai (Riau) dan Cilacap (Jawa Tengah)

2. Tangki Operasional BBM di Palaran (Kaltim), Biak (Papua), dan Maumere (NTT)

3. Pabrik DME di Tanjung Enim (Sumsel)

4. Fasilitas Baja Nirkarat dari Nikel di Morowali (Sulteng)

5. Pabrik Slab Baja Karbon di Cilegon (Banten)

6. Ekosistem Produksi Aspal Buton di Karawang (Jabar)

7. Hilirisasi Tembaga dan Emas di Gresik (Jatim)

8. Pengolahan Sawit menjadi Oleofood dan Biodiesel di Sei Mangkei (Sumut)

9. Fasilitas Pengolahan Pala menjadi Oleoresin di Maluku Tengah

10. Pabrik Terpadu Kelapa yang menghasilkan MCT, coconut flour, dan activated carbon di Maluku Tengah. (Sumber: BPMI Setpres)

 

Perjuangan Panjang Berbuah Hasil: Maluku Akhirnya Punya Industri Pengolahan Sendiri

Di antara rangkaian proyek nasional tersebut, dua proyek yang berlokasi di Kabupaten Maluku Tengah menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus menjadi bukti kesuksesan perjuangan keras Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, SH, LLM. Selama masa kepemimpinannya, Gubernur Hendrik terus berupaya mengubah paradigma lama, di mana Maluku hanya dikenal sebagai penghasil bahan baku, namun tidak menikmati nilai tambah dari kekayaan yang dimilikinya.

 

Groundbreaking kedua proyek tersebut digelar secara bersamaan di Desa Liang, Kecamatan Teluk Elpaputih, dihadiri oleh unsur Forkopimda Provinsi Maluku, Bupati Maluku Tengah, jajaran pejabat teknis, manajemen PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 8, kelompok tani, hingga tokoh masyarakat dan para raja adat.

 

Dalam sambutannya, Gubernur Hendrik Lewerissa menyampaikan rasa syukur yang mendalam. Ia mengakui bahwa proses mewujudkan proyek ini tidaklah mudah dan sempat mengalami penundaan beberapa kali. Namun berkat kerja sama yang solid antara pemerintah daerah, BUMN, dan seluruh elemen masyarakat, akhirnya apa yang diharapkan selama ini menjadi kenyataan.

 

“Ini adalah mentari harapan yang akhirnya bersinar di bumi Maluku. Selama ratusan tahun, kita hanya menjual kelapa dan pala dalam bentuk mentah. Keuntungannya dinikmati pihak lain, sementara kita hanya menjadi penonton. Hari ini sejarah baru dimulai. Hilirisasi ini bukan hanya mengimplementasikan Asta Cita Presiden maupun Sapta Cita kami, tetapi ini adalah kebutuhan hidup masyarakat Maluku,” ujar Gubernur dengan penuh semangat.

 

Lebih lanjut ia menjelaskan, kehadiran industri ini akan menjadi mesin penggerak ekonomi lokal. Ribuan lapangan kerja akan tercipta, angka pengangguran dan kemiskinan dapat ditekan, dan yang paling penting, harga jual komoditas petani akan semakin baik karena ada penyerapan langsung dari pabrik. Gubernur juga berharap perusahaan dapat menjalankan program CSR yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, sekaligus mengajak seluruh warga menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban agar iklim investasi di Maluku semakin kondusif.

 

Potensi Melimpah, Kebutuhan Bahan Baku Terpenuhi. 

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Maluku mengungkapkan rincian teknis dari kedua proyek andalan ini. Secara total, nilai investasi yang ditanamkan mencapai Rp640 miliar, yang terdiri dari:

 

– Pabrik terpadu kelapa: Investasi Rp500 miliar, dibangun di lahan seluas 20 hektar, membutuhkan pasokan 300 ribu butir kelapa setiap harinya.

– Pabrik oleoresin pala: Investasi Rp140 miliar, memproses sekitar 2.568 ton biji pala kering per tahun.

 

Dari sisi ketersediaan bahan baku, Maluku memiliki potensi yang sangat menjanjikan. Data menunjukkan produksi kelapa di daerah ini mencapai 400 juta butir per tahun, sehingga kebutuhan pabrik sudah sangat terpenuhi. Sementara untuk komoditas pala, produksi saat ini sekitar 2.592 ton per tahun yang masih mencukupi kebutuhan awal, namun pemerintah daerah telah menyiapkan program perluasan lahan dan pengembangan budidaya untuk memastikan keberlanjutan pasokan di masa mendatang.

Direktur Produksi dan Pengembangan PTPN III (Persero), Rizal H. Damanik, menyatakan komitmen pihaknya untuk membangun fasilitas ini sesuai standar industri modern dan tepat waktu, sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan oleh masyarakat.

 

Program hilirisasi nasional yang dicanangkan pemerintah pusat dan diwujudkan di berbagai daerah, termasuk Maluku, membuktikan bahwa tidak ada kekayaan alam yang sia-sia jika dikelola dengan niat baik dan kerja keras. Perjuangan Gubernur Hendrik Lewerissa membawa proyek ini ke Maluku adalah bukti bahwa kepemimpinan yang visioner mampu mengubah tantangan menjadi peluang.

Kini, kelapa dan pala yang selama ini menjadi identitas tanah Maluku akan bertransformasi menjadi produk-produk bernilai jual tinggi yang dikenal hingga pasar dunia. Inilah wajah baru Indonesia: bangsa yang bangga dengan kekayaannya, mandiri dalam pengelolaannya, dan sejahtera dalam hasilnya.

Maju terus Indonesia, maju terus Maluku! (TM-OL) 

Tentang Penulis: tifamaluku

Nama Lengkap : Ongen Lekipiouw, S. Sis Jabatan : Pimpinan Perusahaan/Redaksi Alamat : Jalan Dr Kayadoe Kudamati